Senin, 01 Desember 2014

Tentang Ibuk I

Kurang lebih satu tahun, aku masih sangat ingat sore itu saat Bapakku telepon, Bapak jarang menelponku dengan alasan beda operator, setelah aku ganti operator yang samapun tetap saja beliau jarang meneleponku. Satu atau dua kali beliau akan telepon saat sadar anak ragilnya sudah tidak pulang dua minggu lebih, hanya untuk bertanya "Gak mantok nduk?" sudah tak ada yang selebihnya pertanyaan lain seperti, wes maem? lagi opo? pertanyaan yang mengandung perhatian seperti itu. Bapakku selalu curiga saat aku menelpon beliau duluan, pikirnya mesti uang jatah mingguan telah habis. 

Senin, 15 September 2014

Saingan Terberat

Setiap ada dia aku akan kalah telak, kecil,putih, langsing sedikit imut dan sedikit pandai juga berfikir rasional. Dia dapat menempel kapanpun dimanapun dengan dia, mengendus di lengan atau sekedar bergelayut mesra, kalah telat, aku duduk berduapun bisa di hitung dengan jari intensitasnya. Rambut mereka sama-sama keriting, punya hobi yang sama akan alam, musik dan yang lebih parah saat ini mereka tidur berdua. Dan tentunya dia tidak pernah manja atau sekedar ceme-ceme.

Aku tahu dia senang dengan tipe mandiri, strong, apalah daya sampai sinipun kerapuhanku sangat jelas terlihat. Ada aku dia dan kamu membuatku panas hati, bagaimana tidak tingkah mereka menjadi-jadi, memeluk, usap rambut hah, aku kalah telak dengan dia Tuhan.

Saingan terberat

Jumat, 12 September 2014

Telepon Senja

Tutuu tutuut.....

Assalamualaiku itu terucap hampir bersamaan,

***.... hey,


Batas

Ini bukan sebuah kisah percintaan yang penuh perjuangan, air mata dan derita. Bukan juga tentang romansa manis yang bila siapapun membaca akan tersenyum manja, hanya kisah tentang aku dia dan sebuah batas di antara kami. Batas itu besar, tinggi tak terjangkau dan terjamah, tidak pernah kasat mata namun sellau kami sadari, batas itu selayaknya batas negara, sellau kami jaga, agar tidak ada satupun dari kami yang melewatinya.

Dia bukan seorang pacar, teman, dia seorang sahabat, seorang yang akan selalu ada saat diperlukan, tidak pernah bertanya mengapa dan apa. Itulah istimewanya dia, seorang teman bermain yang selalu mengikuti permainanku. Pernah suatu malam gerimis, aku diboncengnya hanya karena aku malas untuk pergi ke rumah temanku di kota lama, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya hujan dan malam. Kami berjalan pelan, dengan tega tak ku berikan helmku untuknya. aku benti terkena rintik hujan, sedikit basa-basi kutawarkan helm retro putih merah itu, di tolaknya halus. Ah, asal kau tahu aku memang hanya sekedar menawarkan. 


Selasa, 09 September 2014

Ayo Kapten

Hari ini dia gusar, anak yang tangkas dan juga pemberani itu baru sekali ini ku lihat seperti itu. Mungkin dia lelah dan sedang tidak fit. Cerita ini bukan tentang nama samara atau inisial, juga bukan tentang anak nakal, dia sudah dewasa, satu tahun di atasku. Selalu bersemangat ketika aku menjarkom, selalu bersemangat ketika latihan dan bermain dan selalu bersemangat saat mengolokku. Padai bermain bola dan musik, dialah sang kapten. Bukan apa-apa aku menyebutnya demikian, 8 bulan lebih aku menjadi bagian dari mereka, setiapku tanya "ini yaapa rek?" sudah dapat ku tebak jawabannya tanya Evan. 


Emak, Aku Ingin Pulang

Kemarin, aku sebenarnya tak sanggup meninggalkan rumah di Minggu sore yang cerah, saat kau terbaring lemah di tambah raunganmu saat aku berpamitan hanya untuk ke perantauan. Ada sebuah misi di hari itu yang ingin ku tuntaskan, meski hanya setengah hati meninggalkan rumah yang sangat nyaman. Nyatanya Mak, mereka selalu tak mengindahkan apa yang ku anggap penting, pegitulah adanya, hal yang kadang kita anggappenting bagi mereka biasa pun sebaliknya. Dalam keterbatasanku aku mencoba kuat, menahan sakit setiap dinginnya Malang menusuk tulang atau getaran moror menggerakkan bahu. Nyatanya separo dari mereka belum siap, agendaku tak karuan. Seperti inilah yang dikatakan hidup adalah sebuah pilihan, maafkan aku kemarin yang mengutamakan mereka, Mak, aku merasa itu tanggung jawabku, keluar dari Malang otakku tak mampu memikirkan tentang halapa saja uang harus menungguku di sana.


Selasa, 22 Juli 2014

Surat yang Tak Terbaca

 Satu bulan lalu, aku menceritakan suasana hatiku pada teman, sayang dia tak lagi mampu membalasnya.



Kau tau B, hari ini aku sangat rapuh. Sebenarnya dari kemarin-kemarin lalu, hanya aku tetap kukuh untuk teguh. Saat semalam ku kira kau lupa dengan jaji di pagi hari, aku ingin berkonsultasi dengan mantan penakluk hati pria, tapi lupakan mendengar suaramu semalam aku tak tega.

Hari ini puncaknya, saat aku berfikir hanya dengan keyakinan aku bisa bertahan rasanya berat, Tuhan seakan bermain lagi dengan hati hambanya ini. Di tambah dengan rasionalitas mereka tentang pahitnya kenyataan. Mereka menyuruhku menyerah untuk mengejar Tuhanku B, aku tahu ada rasa iba ketika banyak yang melihatku berjuang. Aku mengerti mereka benar, mungkin Tuhanku tak patut diperjuangkan, namun bukankah kespiritualitasan hampa dari sana mendapat ujian. Itu bentuk kepedulian mereka aku sadar, terimakasih aku haturkan, mereka adalah keluarga baruku B, orang-orang tidak waras yang mencoba pergerakan lewat musik.

Tuhanku berkata B"Ikuti aturan yang dibuatnya" tak masalah kataku ketika tangguh lalu, namun aku mereset, ada sedikit lelah dalam perjuanganku, sedikit gundah di keyakinanku. Tuhan tetap Tuhan sekeras apapun usaha seorang hamba dia yang menentukan. Aku merasa tertantang dengan itu, dia seakan tersenyum mengejek sambil berfikir sampai mana kamu hamba yang tak layak akan bertahan. Ku balas senyum Tuhan dengan cemerlang. Aku masih yakin denganmu Tuhan, meski mereka mengatakan kau setan. Ujarku B, lebih kepada penguatan hati.

Sekian B, yang pasti aku akan setegar wanita Jawa dan setangguhnya.

Minggu, 25 Mei 2014

Embah (Nama Samaran)

Embah, (nama samaran) paling kanan, bersama sahabat lawasnya
Embah adalah manusia, tentu saja dengan kehidupan layaknya manusia biasa. Embah bukan Embahku, bukan Ibu dari Ibuku atau Bapak dari Bapakku. Dia nyata, bukah hidup di dalam teks atau sekedar dunia maya.

Embah, begitu mereka memanggilnya. Nama aslinya? pentingkah? siapa yang membuat identitas baru ini belum diketahui. Ya, panggil saja dia Embah, nama samaran.

Senin, 12 Mei 2014

Reza, Ketika Gundah Menggulana

Reza, Sahabatku yang perasa. ia sedang gundah, memikirkan nasib lingkungannya. Dia peka dengan segala yang ada di sekitarnya, menyelami tentang kenyamanan. Kenyamanan itu masalah selera Za, bagaimana kita bisa menempatkan diri kita dalam kenyamanan. Jika kamu bertanya "bagaimana rasanya menjadi dia ?" jawabku satu, "Aku bukan dia, dan tidak bisa merasakan seperti dia" Kenyamanan itu butuh waktu za, tentang ketidakbiasaan dan kebiasaan, yang di dapatkan dalam membuat waktu bersama. Dia telah ada dalam kenyamanan kita dulu, begitupula dengan kita ada dalam kenyamanannya dulu juga. Kita pergi karena merasa tak sama, okelah mungkin kita hanya tak rela membaginya dengan yang lain, namun dia punya kenyamanan berbeda sesuai kebutuhan itu Za. Dan kita tak pernah rela kita menjadi bolong, ada cela dan dapat utuh, bukannya aku mengagungkan kita hanya saja aku bingung mencari yang lain selain kita. Dia menidakbiasakan yang biasa, membiasakan yang tidak biasa hingga menjadi kenyamanan yang baru. Aku menyebut kenyamanan itu sebuah budaya yang dibangun oleh suatu kelompok karena kesamaan dan rasa bisa menerima juga datangnnya rasa damai dalam diri mereka. Kenyamanan tidak hanya di dapatkan diantara mereka yang bernyawa, namun dalam segala sesuatu yang aku sebutkan tadi.

Reza, kamu terlalu sensitif tentang tetek bengeknya dunia. Kadang dunia memang kejam, menempatkan kita dipilihan yang sulit untuk dijabarkan, sudahlah jangan terlalu difikirkan, fokuskan apa yang menjadi keinginan dan kenyamananmu. Carilah Za, yang bisa membuatmu melupakan segala permasalahan, yang bisa membuatmu percaya dengan segala yang dilakukan walaupun kejam.

Aku nyaman dengan "Kita" yang dulu, sekarang ataupun esok, karna aku tahu "Kita" tak selalu sama, selalu ada perubahan seiring waktu yang memihak "kita".Asal kamu tahu sekali lagi za, aku punya kenyamanan sendiri sekarang dengan dia, jika kita dipaksakan kembali seperti kita yang dula Za, aku tak pernah percaya hasilnya akan seperti semula, karena yang pecah tak kan pernah menjadi utuh seperti sedia kala. 

Terima saja Za, apa yang ada saat ini,  carilah kenyamananmu Za, hingga akhirnya kamu bisa tenang, damai dan berkembang. Jangan jadikan kita sebagai cangkang dalam cerita kita Za.

Minggu, 13 April 2014

#BaladaRotiTawar

Tulisan ini terinspirasi waktu kemarin, dengan sangat berat hati dan penyesalan yang terus menerus saya keluar dari supermarket sambil meratapi nasib dompet, yang isinya tinggal beberapa lembar uang ribuan. Alasannya simpel, karena keinginan untuk mencoba hal baru, yang lebih tipis dan kelihatan lebih nyaman, tanpa melihat label harga akhirnya terambilah barang itu.

Ciuman Singkat di Depan Gerbang

Pukul 21.45 aku keluar dari toko kecil, tanganku sibuk membawa barang, satu menenteng gelas minuman, satu lagi memegang belanjaan yang baru saja ku beli. Sambil sibuk memasukan barang belanjaanku mataku terpaku pada sosok yang ada di depan, sepasang muda-mudi di atas motor, si cewek terlibat adu mulut dengan adiknya yang ada di bawah, entah membicarakan apa tidak jelas. Sang adik kelihatan jengkel, memandang embaknya dengan mata tajam.

Keteguk minuman yang ada di tanganku setelah selesai memasukan barang ke dalam tas, mataku masih terteju ke depan, rasa ingin tau yang kuat membuatku intensif memperhatikan mereka, tanpa ku duga si cewek turun dari motor, berbalik cepat ke arah cowok yang masih di atas motor, mengecup pelan pipi si cowok, sambil tersenyum. Aku terdiam, terkejut dengan yang baru saja terjadi di hadapan mata, setelah tersadar pandanganku menyapu sekeliling, jalanan memang lumayan sepi, namun di daerah yang banyak dihuni rumah - rumah kost mahasiswa ini masih ada satu, dua yang berlalu di jalan itu. Lalu pandanganku kembali ke arah mereka, melihat sang adik yang masih berdiri di depan, diam, mungkin bingun dengan yang terjadi secara cepat dan sekilas.

Rabu, 02 April 2014

Hello 21

Karya Sulih Prabawati, terimakasih sudah menjadi adik kost yang baik :''
Tambah segala-galanya untuk 21 tahun yang terbaik, yang jelek semoga dikurang oleh Tuhan. 2 April 1993 Fidia Rahayu seorang anak keempat dari 4 bersaudara lahir. Sekarang 21 tahun kemudian tepatnya 2 April 2014 Alhamdulillah Tuhan masih memberi kesempatan saya untuk menghirup udara.

Selasa, 01 April 2014

Mencintai Malang

Tiga tahun waktu yang lama untuk membuatku mengakui indahmu
Setiap udara yang kau beri, setiap tanah yang kau sediakan untuk tempatku berpijak.

Tiga tahun lalu, sebuah harapan baru muncul, tentang hidup tenang dan kebebasan, sayangnya sampai saat lalu aku belum bisa menikmatimu, Malangku.

Kini aku sadar, kamu tidak pernah bersalah dengan yang mereka lakukan padamu.

Perubahan itu sellau ada, aku merasakannya. 
Untuk sekarang aku akan menikmati setiap detik yang ku habiskan denganmu. 
Macet, Panas, Udara kotor.

Tapi tenang Malang, akmu masih punya banyak hal indah untuk di banggakan.
Terimakasih untuk tampunganmu pada kami,
Untuk kebebasan hingga kami membuka diri,
Untuk langit biru dan pagar bukit yang indah.
Untuk tanah yang kupijak dan udara yang ku hirup,
Terimakasih telah mau berbagi dan tumbuh berasama kami.

Semoga kamu bisa lebih baik lagi,
Semoga mereka bisa sadar akan hal indahmu,

Malang, 1 April 2014 #100TahunMalang

Senin, 31 Maret 2014

Mencintaimu tak butuh aliran darah

Hallo Brooh, kamu apa kabar di sana? aku selalu mendoakan yang terbaik.
Ini baru 3 hari, aku membiasakan diri tanpamu, biasanya berminggu-minggupun tak pernah ada masalah, karena aku tahu kamu masih menungguku di depan pintu dengan berbagai pertanyaan tentang hariku di Malang. "Teko kono jam piro?" (Dari sana jam berapa?"," berarti mau di susul masmu?" (Berarti tadi dijemput kakak mu?". 

Selasa, 25 Maret 2014

Karna Cinta tak Perlu Aliran Darah

Hei, selamat malam. Maaf ya Socikoclogy hari ini aku nggak bisa nahan rapuh, nahan air mata egoisku.

Dia bukan siapapun bagi semua yang ada di sana, tanpa mereka sadari perannya cukup besar. Memiliki kisah hidup yang sangat panjang, perjuanganya akan cinta dan kedamaian, aku dapat merasakannya. Wajahnya selalu tegas, giginya berkerak namun masih utuh, bibirnya merah kehitaman bekas sirih yang setiap waktu dikunyah. Setiap kali aku pulang, suaranya selalu menyambutku, sosok ringkihnya duduk di kursi keras dari bata.

Tuhan memang adil, tak perlu aliran darah untuk membuatku menyanyanginya, bahkan lebih. Kata kasarnya mungkin sedikit meniru pada diriku, begitupula watak kerasnya. Dia tulus aku yakin itu, orang boleh memandangnya remeh, bagiku dia semua. Tempat mulutku menceritakan semua yang tak pernah bisa ku ungkapkan kecuali di kata, tangannya selau terbuka siap untuk memelukku ketika rapuh.