Ini bukan sebuah kisah percintaan yang penuh perjuangan, air mata dan derita. Bukan juga tentang romansa manis yang bila siapapun membaca akan tersenyum manja, hanya kisah tentang aku dia dan sebuah batas di antara kami. Batas itu besar, tinggi tak terjangkau dan terjamah, tidak pernah kasat mata namun sellau kami sadari, batas itu selayaknya batas negara, sellau kami jaga, agar tidak ada satupun dari kami yang melewatinya.
Dia bukan seorang pacar, teman, dia seorang sahabat, seorang yang akan selalu ada saat diperlukan, tidak pernah bertanya mengapa dan apa. Itulah istimewanya dia, seorang teman bermain yang selalu mengikuti permainanku. Pernah suatu malam gerimis, aku diboncengnya hanya karena aku malas untuk pergi ke rumah temanku di kota lama, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya hujan dan malam. Kami berjalan pelan, dengan tega tak ku berikan helmku untuknya. aku benti terkena rintik hujan, sedikit basa-basi kutawarkan helm retro putih merah itu, di tolaknya halus. Ah, asal kau tahu aku memang hanya sekedar menawarkan.
Kami ngobrol banyak tentang keterlekatan, kepentingan, politik dan lainnya sepanjang jalan, aku senang menikmati hujan dengan obrolan. Akhirnya dengan sengaja aku bertanya "Kenapa mau mengantarkan? padahal hujan, gak pakai helm?"
Jawabnya sederhana "Aku gak bawa motor, nanti kan bisa ku pakai montormu" Itulah Batas, bagaimana kami harus saling menjaga perasaan agar tidak terlalu jauh terlena. Aku sadar jika antara aku dan dia ada tapi, tapi kami teman, tapi dia sudah punya pacar dan tapi- tapi yang lain. Untuk itu kami selalu saling mengingatkan akan batas, atau aku yang hanya merasa seperti itu.
Pernah juga suatu ketika aku tidak berulang tahun, masih bulan Februari waktu itu, karena aku sangat ingin hadiah, aku bilang aku sedang berulang tahun dan meminta kado, beberapa hari berlalu dapat di tebak apa yang ku dapatkan sebuah kado, tanpa bungkus kado, namun cukup mengesankan. Perlahan rasa bersalah itu ada, aku merasa tak layak mendapatkan apa yang belum waktunya,akhirnya agak terpaksa aku mengakui itu bukan hari ulant tahunku dengan rasa bersalah, sudah berbagai macam perasaan melingkupi, tkaut dia kecewa karena aku bohong dan lain sebagainya. Taraaa.... Dia seperti dia yang biasa, dengan santai dia berkata kalau dia sudah tau itu.
Itulah dia seorang yang selalu ada dan tak pernah bertanya.
Itulah dia seorang yang selalu ada dan tak pernah bertanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar