Selasa, 22 Juli 2014

Surat yang Tak Terbaca

 Satu bulan lalu, aku menceritakan suasana hatiku pada teman, sayang dia tak lagi mampu membalasnya.



Kau tau B, hari ini aku sangat rapuh. Sebenarnya dari kemarin-kemarin lalu, hanya aku tetap kukuh untuk teguh. Saat semalam ku kira kau lupa dengan jaji di pagi hari, aku ingin berkonsultasi dengan mantan penakluk hati pria, tapi lupakan mendengar suaramu semalam aku tak tega.

Hari ini puncaknya, saat aku berfikir hanya dengan keyakinan aku bisa bertahan rasanya berat, Tuhan seakan bermain lagi dengan hati hambanya ini. Di tambah dengan rasionalitas mereka tentang pahitnya kenyataan. Mereka menyuruhku menyerah untuk mengejar Tuhanku B, aku tahu ada rasa iba ketika banyak yang melihatku berjuang. Aku mengerti mereka benar, mungkin Tuhanku tak patut diperjuangkan, namun bukankah kespiritualitasan hampa dari sana mendapat ujian. Itu bentuk kepedulian mereka aku sadar, terimakasih aku haturkan, mereka adalah keluarga baruku B, orang-orang tidak waras yang mencoba pergerakan lewat musik.

Tuhanku berkata B"Ikuti aturan yang dibuatnya" tak masalah kataku ketika tangguh lalu, namun aku mereset, ada sedikit lelah dalam perjuanganku, sedikit gundah di keyakinanku. Tuhan tetap Tuhan sekeras apapun usaha seorang hamba dia yang menentukan. Aku merasa tertantang dengan itu, dia seakan tersenyum mengejek sambil berfikir sampai mana kamu hamba yang tak layak akan bertahan. Ku balas senyum Tuhan dengan cemerlang. Aku masih yakin denganmu Tuhan, meski mereka mengatakan kau setan. Ujarku B, lebih kepada penguatan hati.

Sekian B, yang pasti aku akan setegar wanita Jawa dan setangguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar