Senin, 01 Desember 2014

Tentang Ibuk I

Kurang lebih satu tahun, aku masih sangat ingat sore itu saat Bapakku telepon, Bapak jarang menelponku dengan alasan beda operator, setelah aku ganti operator yang samapun tetap saja beliau jarang meneleponku. Satu atau dua kali beliau akan telepon saat sadar anak ragilnya sudah tidak pulang dua minggu lebih, hanya untuk bertanya "Gak mantok nduk?" sudah tak ada yang selebihnya pertanyaan lain seperti, wes maem? lagi opo? pertanyaan yang mengandung perhatian seperti itu. Bapakku selalu curiga saat aku menelpon beliau duluan, pikirnya mesti uang jatah mingguan telah habis. 
Telpon sore itu sama dengan telpon-telpon sebelumnya, Bapak bertanya kapan aku pulang, pikiranku masih positiv, mungkin Bapak kangen. Tapi saat pagi hari beliau menelpon lagi perasaan sudah tidak tenang, Bapak menyuruhku untuk pulang. Ku berikan janji nanti agak siang, agak siangan beliau menelpon lagi bertanya sudah sampai mana. Aku yang saat itu masih harus rapat organisasiku tak bisa menjawab, akhirnya bapak ngomong "Ibukmu panas, wingi mari tibo pas gerimis mari makani pitek" Deg, hatiku sudah tidak tenang,  "Iyo Pak, maringene mantok, iki seh onoh acara nang kampus", lek nggak onok acara langsung mantok lo ya. Di rumah memang tinggal kedua orang tuaku, Mbak dan masku mereka telah berkeluarga sendiri-sendiri dan hanya beberapa kali menunjungi rumah.
Selesai telpon itu aku sudah tidak tenang, pikiranku kemana-mana, Bapak beberapa kali telpon lagi, sampai jam 2an acara baru selesai, di tengah gerimis sambil meminjam powerbank seorang teman aku menuju terminal untuk pulang. Sampai Kertosono Mbak menelpon beberapa kali, ibuk di bawa kedokter, karena down. Pikirku memang check up biasa, ternyata aku salah. Ibuk harus seminggu di rawat di rumah sakit.
Sataun kurang lebih peristiwa itu, sebelum peristiwa-peristiwa lain dalam hidupku yang muncul, bagi ku 2014 merupakan tahun dimana Tuhan mengujiku untuk lebih dewasa, untuk tidak manja dan tidak bergantung pada mereka orang-orang yang mengasihiku, namun dengan perubahan yang sangat mendadak aku seakan belum siap, terlalu berlebihankah Tuhan menguji ku? jika aku rasional seperti sore ini jawabannya adalah tidak. Bnayak yang lebih-lebih lagi dari saya cobaanya. Saya saja yang kurang mensyukuri dan tidak bisa mensyukuri.
Satu tahun, saya akhirnya sadar, perhatian saya terhadap seorang Ibuk dan Bapak sangatlah kurang, terlibih terhadap Bapak. Jika dulu dalam hidup yang saya pikirkan hanya saya dan saya dengan adanya cobaan ini saya jauh lebih memikirkan mereka, apa yang mereka biasa lakukan terhadap saya, yang walaupun mereka tahu tingkah saya tapi tetap tulus memberi sayang mereka.
Setaun lebih, naik turunnya hidup, Doa terbaik, usaha terbaik, sabar terbanyak, linang air mata dan juga senyum yang selalu kami pancarkan di wajah kami semata-mata hanya untuk beliau. Kalau saat ini ada kata kasar terselip di tengah lelah kami, maafkan. 
Aku kangen saat dulu Buk, saat yang tidak pernah aku hargai apapun yang ibuk lakukan. Membelikan sesuatu yang tidak pernah cocok dengan seleraku. Aku juga sangat ingat ketika aku marah saat SD dimana waktu itu selalu ada membawa acara membawa berkat ke sekolah, Ibuk sellau memberi lauk telor dan mie instan. Atau tiap pagi yang harus sarapan pecel dengan peyek dan tempe, kalau beruntung di ganti urap, siang dengan sayur lodeh lauk telur bulat. Selalu seperti itu tiap harinya.  Waktu itu aku belum sadar Ibuk membuatkan itu karena dia orang dengan pagi tersibuk, harus masak untuk 20an orang pekerja, belum lagi harus menjaga toko. Maaf buk dulu aku sering marah-marah, sekarang aku rindu masakanmu.Aku juga kangen mengantarmu ke pasar meski aku selalu di titipkan di warung soto depan karena tidak tahan dengan bau bunga wangi dan bau sayur-mayur yang busuk. Aku kangen telponmu yang selalu bertanya sudah sampai apa belum. Aku kangen semua Buk, ceritamu yang belum selesai selalu disertawai tawa dahulu hingga aku harus berkata "Mak tutukne sek lek cerito baru ngguyu". Aku kangen Ibuk yang selalu menuruti permintaanku, minta ini, itu selalu di iyakan. Aku juga kangen jika ibuk membayarkan untuk minum obat, berobat kedokter, pijet, timbang badan dan potong rambut pendek. Kangen omelanmu tentang rambutku yang panjang mengembang tanpa pernah mau aku memakai minyak rambut, sekarang aku sadar hasilnya akn sama seperti rambutmu hitam, berkilau dan lembut jika aku mau memakai minyak dengan merk rita itu. Dengan Bapak aku harus menunggu, harus di pres. Tapi semua  ini aku anggap sebagai pembelajaran untuk kita buk, Bapak jauh lebih sabar, meski aku tahu capek selalu melingkupi beliau. Jangan pikirkan apapun Buk, tetap semangat, kami akan sellau mendukungmu. 

Dia, menunggu untuk memboncengmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar