Minggu, 13 April 2014

#BaladaRotiTawar

Tulisan ini terinspirasi waktu kemarin, dengan sangat berat hati dan penyesalan yang terus menerus saya keluar dari supermarket sambil meratapi nasib dompet, yang isinya tinggal beberapa lembar uang ribuan. Alasannya simpel, karena keinginan untuk mencoba hal baru, yang lebih tipis dan kelihatan lebih nyaman, tanpa melihat label harga akhirnya terambilah barang itu.


#BaladaRotiTawar 
Yang tipis belum tentu nyaman, 
begitupula yang bersayap, belum tentu menolong.
Aku tak bisa membayangkanmu lebih indah, 
dengan putih bersihmu, serta sayap dikedua sisimu.
Sayang, hanya digunakan sekali, lalu dibuang dengan pandangan jijik, 
lupa berterimakasih? lupa bersyukur.
Tanpamu tak ada eksistensi, tanpamu tak ada kepercaya dirian.
Satu dua kali, terimakasih perlu dihaturkan.
 Kami mungkin masih berkutat dikamar tanpamu, 
takut dengan noda istimewa anugrah Tuhan.
 hah .....
 kamu memang diciptakan untuk kesetaraan.



di ambil dari http://riffrizz.wordpress.com/2009/12/15/drakula-ingin-menjadi-malaikat/

Orang-orang oarang Jawa biasa menyebutnya ''Roti Tawar" kenapa demikian? Penyebutan itu dilakukan untuk memperhalus nama aslinya, pembalut, mungkin di daerah lainpun demikian. Pembalut di anggap hal yang tidak pantas di ucapkan di depan umum, apalagi di hadapan laki-laki. Melihat identitas masyarakat Jawa yang tertutup dan sangat menghormati laki-laki tidak heran jika penyebutan pembalut dapat di ganti dengan beberapa kata yang lebih sopon.

Bagi saya sendiri pembalut ada hubungannya dengan kesetaraan gender, dimananya? Pemikiran ini baru teercetus tadi, setelah saya terlibat obrolan tentang pembalut Rotiu Tawar ini dengan seorang teman di Blackberry masenger. Saya mengeluh tentang betapa mahalnya barang yang terbeli kemarin, akhirnya pikiran saya terbuka lebar beberapa jam setelahnya. Tidak tahu malu sekali saya, tidak pernah berterimakasih dengan barang ini. Mungkin tanpa pembalut,  kita, wanita 7 hari dalam setiap bulannya hanya akan hidup di dalam kamar tanpa melakukan apapun, takut keluar, takut bocor, merembes, banjir dan hal memalukan lainnya. Kita akan terbatisi gerak, tidak dapat melakukan aktivitas olahraga dan aktivitas di luatr lain. Bahkan hanya untuk sekedar ke warung membeli gulapun mungkin kita akan ragu melanhkahkan kaki.

Sehingga pergerakan kita akan terbatasi dan kita akan selangkah di belakang dengan laki-laki dalam hal apapun yang berkaitan dengan aktivitas luar ruangan. Persaingan yang terjadipun seakan tidak adil, laki-laki bebas bergerak kemanapun mereka pergi tanpa takut noda merah menyala akan muncul di belakang pantat mereka. Saya tidak tahu pada jaman R.A Kartini dulu dalam memperjuangkan hak-hak wanita sudah menggunakan pembalut belum, namun dari cerita Iyu saya tahu, dulunya wanita menggunakan kain untuk mengatasi masalah haid ini, kurang efisien dan merepotkan jika hal itu masih terjadi pada saat ini. Hal itulah yang akhirnya menyadarkan saya, bahwa pembalut membantu wanita  menyetarakan gender dengan laki-laki. Alhamdulillah terimakasih untuk siapapun yang menemukan pembalut.



Nb: Di tulis dalam keadaan sadar, dan tanpa paksaan dari siapaun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar