Senin, 31 Maret 2014

Mencintaimu tak butuh aliran darah

Hallo Brooh, kamu apa kabar di sana? aku selalu mendoakan yang terbaik.
Ini baru 3 hari, aku membiasakan diri tanpamu, biasanya berminggu-minggupun tak pernah ada masalah, karena aku tahu kamu masih menungguku di depan pintu dengan berbagai pertanyaan tentang hariku di Malang. "Teko kono jam piro?" (Dari sana jam berapa?"," berarti mau di susul masmu?" (Berarti tadi dijemput kakak mu?". 


Sabtu, 29 Maret 2014
Aku masih tertidur lelap ketika matahari mulai mendaki ke atas, tak ku hiraukan alarm yang beberapa kali berbunyi serta beberapa pesan singkat, sampai sebuah bunyi yang ku kenal tidak berhenti diam walau ku coba menggeser layar "tolak", dengan malas ku lirik layar hp yang berkedip "Bapak" deg.. seketika aku langsung tersadar dan duduk, firasatku sudah tak enak, biasanya Bapak sangat jarang menelponku, hanya beberapa kali ketika ada hal penting dan rasa kekepoannya memuncah, atau sebatas rindu yang selalu malu di ungkapkan. Ku geser layar dan ku tempelkan hp ketelinga.
       "Haloo, Assalamualaiku" kataku sedikit ragu.

        "Hallo, anek acara ta nduk ndik kampus" (ada acara ta nak di kampus?), belum sempat aku menjawab Bapak langsung melanjutkan.

         "Lek kirane ndak onok mantok ya" (kalau misalnya ngga ada pulang ya" Aku terdiam mendengar terusan dari suara Bapak. 

         "Onok opo Pak? (Ada apa Pak)" Air mata tak kuasa menetes, aku sudah dapat menebak jawabannya.

    "Yute wes ga enek" (Yut sudah nggak ada) otakku tak sempat meneruskan obrolan dengan Bapak, satu kata yang ada hanya "aku harus pulang" sedikit tertegun air mata mulai membanjiri wajahku, aku sudah tidak dapat menahannya lagi. 

beberapa menit ku gunakan untuk menangisi penyesalanku, aku tidak sedih Dia di panggil Tuhan, tapi ada yang ku sesalkan. 

Sabtu, 22 Maret 2014
Seminggu yang lalu tepatnya ketika aku mendapat kabar dia dirawat dirumah sakit aku langsung menuju disana dengan masku. dia terbaring dengan tubuhnya yang ringkih di keranjang sempit itu, wajahnya yang coklat tua terlihat semakin gelap, bibirnya yang setiap hari sellau merah cerah karena warna sirih dan tembakau kini tinggal putih pucat, aku rak tega melihatnya terbaring tidak berdaya, dia tidur lelap, aku memilih duduk menunggunya bangun. beberapa menit akhirnya dia terbangun, pelan aku dan mas menghambiri. Matanya memercing mengamati siapa yang ada di depannya. Suaranya serat lebih serak dari suaranya yang biasa.

"iki sopo? (ini siapa) tanyanya lirih tanpa tenaga.

"Dia yut" jawabku, tidak tega melihat dia yang biasa bersuara lantang memanggil dengan seperti itu. 

Selanjutnya terjadi obrolan singkat dan beberapa jam kemudian dia meneruskan istirahatnya, karena sampai langsung menuju ke rumah sakit perutku keroncongan, hari juga mulai sore, kuputuskan untuk pulang, sebelumnya ciuman singkatku di dahinya sebagai tanda pamitan. 

"Cepet sembuh yut" pesanku.

Teman Hidup, Iyut nang Yut :*
janjiku untuk besok kembali mengunjunginya, tapi sampai akan kembali ke Malang aku belum sempat menengoknya lagi, jadwal penuh membuatku harus sampai di Malang Seni siang. Saat menunggu bus yang tak kunjung ada, ingin rasanya sebentar aku berpamitan, tapi aku yakin dia akan sembuh waktu itu. 

Selasa, mas mengabarkan dia sudah pulang tapi masih belum ada kemajuan, belum mau makan, nafas masih sesak. Di tengah-tengah matakuliah malam itu aku tak dapat menahan airmataku, sedikit penyesalan karna tak sempat menengoknya lagi, air mata yang ku bawa sampai latian bersama anak-anak lain, hingga aku sadar tidak seharusnya air mataku keluar, aku kurang tangguh malam itu.

Sabtu, 15 Maret 2014
Aku pulang, ada janji dengan teman untuk bersilahturakhim dan berbelasungkawa kepada seorang teman yang sedang berduka, Bapak menelpon, bertabya aku pulang serta memberitahukan kalau di rumah akan ada syukuran untuk panen padi.

Di desa kami ada tradisi tentang syukuran merayakan panen, namanya wiwit, sebagai kebudayaan Jawa yang masih diteruskan sampai saat ini. Iyut biasanya yang membuat sesajen untuk di kirim ke sawah, sama halnya dengan hari itu, dia masih seperti biasa. Dan dua hari kemudian aku mendapat pesan dia harus menjalani rawat inap di rumah sakit, aku jarang melihatnya sakit. rasa khawatir mulai melandaku.  

Sabtu 29 Maret 2014
Ku pacu motorku secepat mungkin, ingin rasanya aku mencari jalan terdekat untuk sampai di rumah tepat waktu, melihat sosoknya dulu minimal untuk menghapus rasa kewaku. 2,5 jam selama perjalanan air mata tak sanggup ku bendung, sampai di rumah keadaan sudah sepi. Rasanya aku belum percaya, dia yang biasanya ada di depan pintu sambil mengunyah siri, sekarang rumahnya ramai dengan orang-orang berdandanan rapi dan berkerudung, sosok Bapakku tidak ada di manapun, aku butuh sandaran, dengan langkah gontai aku menuju rumahnya, dengan tangis kencang aku akhirnya digandeng sesorang yang tidak ku kenal, munkin sanak saudaranya. Memasuki rumahnya rasanya masih sama, hanya banyak orang kali ini. tidak seperti biasa, yang hanya ada dia dan tv serta radio kecilnya. Bingun terlalu banyak orang hari itu, sampai aku tidak mengenali mereka, aku hanya ikut mereka yang menggandengku, Bapakku datang dari arah luar, aku berlari memeluknya, lemas rasanya, harapanku satu ingin melihatnya untuk yang terakhir.


 Dia bukanlah siapapun bagi mereka, dia juga tak memiliki aliran darahku. Namun dia tak pernah menjadi orang lain bagiku. hampir 21 tahunku selalu ada dia. Dia selalu sendiri, sepikah? sunyikah? tak pernah ada yang mengerti. Dia tak pernah mengungkapkan karna dia wanita tangguh yang siap menghadapi apapun di dunia.

Dia yang mengajariku untuk tegar, yang memberi tahu bahwa ldunia itu kejam.
Dia tak pernah menceritakan panjang torehan hidupnya, aku hanya mendengar dari mereka yang berbicara di luar. Mungkin baginya terlalu kelam.

Dia ada di pagiku, suaranya menjadi hal utama yang selalu kudengar.
Dia bukan Ibu, Bukan nenek. Bukan kakak dan Bukan siapapun.
Dia seorang sahabat seorang yang sebelum aku mengeluh selalu tahu, sebelum aku menangis selalu memeluk,

Dia mungkin kasar, karna itu caranya bertahan dari kerapuhan.


Semoga kamu tenang ya Iyut, maaf kalo egoisku kemarin meminta menunggu lebih lama, aku percaya Tuhan menyiapkan lebih banyak anak kecil untuk kau jaga. Kamu yang baik sama Tuhan. Kami sayang kamu. Terimakasih untu 21 tahun ini. Sekarang Dia nggak akan bangunih hanya untuk sekedar boker, atau menganggu waktu makanmu dengan minta satu dua suapan sampai akhirnya perutku kenyang. Aku nggak bakal lupai kamu, maaf Tuhan punya rencana lain untukmu, mungkin bukan anakku yang harus kau asuh, tapi anak" lain di sana yang jauh lebih membutuhkanmu. Saat ini kamu jangan sedih, melihat mereka yang biasanya tidak ada di sana mengerubungi hartamu, percayalah mereka akan menjaganya, kamu nggak usah mikirin itu semua. Aku akan sering-sering kirim doa. Aku mulai membiasakan tanpa kehadiranmu, bukan berarti aku bandel dan melupakanmu, ini demi kebaikan kita. 

Kemarin Aji tanya "Iyot ya?" aku jawab "Iyut di sana, naik pesawat jauh sama anak-anak lain" aku benarkan. Aku akan jaga Aji, nggak nakal sama Pika. Kamu teang saja. Nanti kalau aku sudah lebih tangguh, aku akan mengunjungi rumah barumu. Jagain kami dari sana ya Iyut. 

Untuk mencintaimu aku tak butuh aliran darah.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar