Selasa, 09 September 2014

Emak, Aku Ingin Pulang

Kemarin, aku sebenarnya tak sanggup meninggalkan rumah di Minggu sore yang cerah, saat kau terbaring lemah di tambah raunganmu saat aku berpamitan hanya untuk ke perantauan. Ada sebuah misi di hari itu yang ingin ku tuntaskan, meski hanya setengah hati meninggalkan rumah yang sangat nyaman. Nyatanya Mak, mereka selalu tak mengindahkan apa yang ku anggap penting, pegitulah adanya, hal yang kadang kita anggappenting bagi mereka biasa pun sebaliknya. Dalam keterbatasanku aku mencoba kuat, menahan sakit setiap dinginnya Malang menusuk tulang atau getaran moror menggerakkan bahu. Nyatanya separo dari mereka belum siap, agendaku tak karuan. Seperti inilah yang dikatakan hidup adalah sebuah pilihan, maafkan aku kemarin yang mengutamakan mereka, Mak, aku merasa itu tanggung jawabku, keluar dari Malang otakku tak mampu memikirkan tentang halapa saja uang harus menungguku di sana.


Aku tahu mereka tak pernah main-main, tapi sekali ini aku sangat bosan, dengan semua yang ada di sini, di Malang. Malang panas saat siang, membuatku yang mandi dengan menyisakan lengan suatu musibah, dingin ketika malam, menambah ngilu tulang yang rapuh ini. Aku ingin pulang Mak, rasanya Malang terlalu menjemukan akhir-akhir ini, ingin melafalkan ABC bersammau atau hanya sekedar foto-foto denganmu. Macet di mana-mana belum lagi terlalu banyak tuntutan, bukan hidup di sana di kelilingi ponakan nakal. se,ua yang ada di Malang tak membiarkanku bersantai sejenak. Ingin ke tempat baru dengan orang-orang baru hanya sekedar untuk melupakan sejenak tetek bengek Malang. Bukan lagi kota impian dan tak lagi ku rasakan kedamaian.

Aku benci ketika aku merasa selalu aku yang memberi, sangat sombong memang, mungkin hatiku terlalu rapuh dan kurang ikhlas dalam melakukan segalanya, untukitu aku ingin meninggalkanya sejenak Mak, membuatmu berlari kembali mengejar Vio, Aji dan Baha.Aku tahu kaupun ingin seperti itu. &Untuk seklarang ku anggapini sebuah ujian darimu untuk kami, menguji seberapa besar Aku, Bapak, Embak, Emas dan semua yang ada menyayangimu, asal kau tahu kita akan selalu kuat untukmua. Jangan kau fikirkan terlalu berat dengan hidup ini, Tuhan yang mengatur kita yang memilih. Percayalah padaNya Mak, dia trahu yang terbaik dari yang terbaik. Tuhan Maha mengerti meski kita sellau menganggapnya kurang asyik, seperti yang selalu ku bisikkan padamu, yakini dulu keinginanmu dan Tuhan akan mengikutinya Mak.


Malang, Dingin, Menyebalkan dan aku rindu Emak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar