Senin, 25 April 2016

Bissmillah

Tampaknya memang saya harus melangkah.  Tujuan yang utama tentu saja untuk kemaslahatan bersama. Agar paling tidak ada orang-orang yang senyumnya sebagai bayaran dari jerih payah.

Mengesampingkan ego yang teramat besar. Diam-diam saya tak ingin terus-terusan menjadi pecundang. Menutup mata dan telingan, yah kamu tahulah di dunia ini banyak mulut-mulut pengangguran yang berpekerjaan dengan membicarakan orang, tanpa ada manfaat lain dalam hidupnya selain untuk memenuhi kebutuhan nafsu akan kepuasan. "Ternyata aku masih lebih baik " yah seperti itulah alasan-alasan semua itu dilontarkan.

Sabtu, 16 April 2016

Awal

Semakin ke sini semakin ku sadar ketertinggalanku akan mereka. Hasil yang seharusnya sama menjadi jauh, aku menghambat berprosesku sendiri. Harihari yang semakin cepat berlalu seakan hanya angin, numpang lewat untuk kadang sekedar mengingatkan.

Satu minggu, bulan bahkan tahun, kepatahhatianku oleh Tuhan membuatku hidup seakan tanpa tujuan. Setiap harinya halhal tak bermakna terus berulang, Tak mengerti juga akan sampai kapan. Kepercayaanku bahwa aku ini manusian intrinsik hilang, menyalahkan keadaan, lingkungan, takdir waktu yang seakan tak pernah tepat untukku.

Perlu dorongan sekeras apalagi agar sedikit saja ada tujuan yang ingin kunyatakan, tak hanya angan atau asa, juga andai andai yang setiap menit ku latangkan.

Kamis, 18 Februari 2016

Berandai-andai, berdosakah?

Sebuah gambar di instagram dari akun konyol hari ini menyentak saya, cukup sederhana untuk membangunkan rindu, rindu yang hanya bisa terus terjawab dengan doa. Beberapa pertanyaan yang selalu terngiang saat sekelebatan maya datang.
Apakah beliau juga akan menonton dan larut dalam roman-roman bollywood yang sedang menjamur di negri ini? atau ikut menikmati kehebohan dandanan dan guyonan acara pencarian bakat yang bahkan banyak menghabiskan waktu untuk guyonan.
Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang hanya menggantung pada kata "apakah" apakah dan apakah, di tebak-tebakpun saya tetap tidak tahu jawabannya.


Selasa, 17 November 2015

Tujuh

Malang, 17 November 2015

Sudah tujuh bulan tanpa terasa, aku baru ingin menulis tentang ini kemarin malam. Saat ku putuskan menghubungi Bapak, minta tambahan uang. Bukan apa-apa aku hanya ingin sedikit pamer padamu Mak, ketakutan-ketakutanku setelah kau pergi pelan-pelan harus kuatasi, terutama tentang hubunganku dengan Bapak, yang menurutku adalah hal utama untuk diperbaiki. Kami mulai belajar untuk mendengarkan, untuk lebih berinteraksi secara intens meski sering pula aku menghindar, aku masih bingung untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanya yang bersifat pribadi, belum bisa menatap wajah Bapak saat kami bicara atau menanyakan hal-hal pribadi tentang beliau, akan ku coba, yang ini pasti kuusahakan. 

Akhir-akhir ini maafkan aku yang jarang teringat padamu. aku hanya ingin kamu datang mengingatkan, seperti malam-malam sebelumnya. Namun ingatlah meski kami saling jauh, tujuan kami sama membuatmu bahagia di sana, tak perlu mengkhawatirlan apapun tentang kami. Tulisan ini juga terinsprasi dari iklan layanan masyarakat yang kemarin aku tonton, tentang hari Ibu, sangat menyentuh, ceritanya cukup simple dituntun dengan pertanyaan remeh-temeh yang membuat naluriku cukup tersentak. Bahkan ada satu pertanyaan yang membuatku terlihat amat miris, aku tidak pernah tahu apa makanan kesukaanmu Mak, yang sangat ku sesalkan adalah kita memang sangat dekat setelah penyakit itu muncul, sebelum-belumnya aku seolah tak pernah peduli dengan apa yang terjadi padamu kecuali itu menyangkut keberadaanku. Miris, bukan? aku cukup bersyukur meski sebentar Tuhan memberiku peluang untuk membalasmu, meski sering kuiringi dengan keluhan, meski tak pernah setulus kasimu untukku.

Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, namun seperti yang selalu aku bilang, kamu di sana cukup mendoakan, agar anakmu ini selalu bisa mengambil sikap yang baik serta dapat menyelesaikan masalah-masalahnya. Banyak yang terjadi setelah Emak pergi, kita sangat kehilangan, banyak yang telah berubah pula. namun yang harus selalu Mak ingat adalah kami semua punya tujuan sama, membahagiakanmu di sana. 

dia.

Kamis, 28 Mei 2015

Mas

Hari ini 28 Mei tepat 30 tahun. Sebelumnya saya ucapkan selamat menempuh usia yang lebih dewasa untuk Mas satu-satunya. 

Usia kami terpaut 7 tahun, usia yang pas, tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat, namun karna urutan kelahiranya yang tepat berurutan membuat hubungan kami erat. Kami punya banyak rahasia berdua, atau lebih tepatnya Mas yang menyimpan rahasia saya begitu banyak. Setiap kenakalan-kenakalan oleh perbuatan saya dia adalah orang pertama yang selalu tahu. "Ojok omong wong omah lo ya" (Jangan bilang orang rumah ya) itulah kata yang selalu terlontar, "Iyo tapi ojok nakal maneh" (Iya tapi jangan nakal lagi".

Kaliamat itulah yang juga terlontar saat ibuk meninggal, "Ojok nakal maneh saiki" (Jnagan nakal lagi sekarang". Laki-laki satu-satunya mungkin juga menjadi faktor Mas lah yang menjadi tumpuan kami dulu. Secara fisik banyak yang bilang kami mirip, tapi secara sifat kami sangat berbeda.  

 

Rabu, 08 April 2015

Surat untuk Boy 1



Hay Boy yang sedang jatuh cinta yang sesungguhnya menurutku.
Salam.
Belum genap satu bulan kau meningalkan kota tercinta ini, ragamu sudah menginjakan di Malang lagi. Tepatnya 15 hari. Dengan mantap dulu kau bilang ingin satu bulan berada jauh di antah berantah jauh yang tak terjamah itu, bergaul dengan sapi-sapi di tempatrencanamu penelitian. Bercengkrama dengan Bapak Ibukmu yang jarang kau temui, juga menikmati sepinya malam tanpa canda tawaku.
Hey Boy, Saat ku Tanya di sms “kamu kapan balik?” dan jawabanmu nggilani aku sudah curiga daa apa-apa, ternyata benar kau pulang lebih awal. Ya, pulang Boy, sebutanku untuk menyambutmu kembali. Pulang yang artinya kami adalah sebuah rumah, tempatmu bisa leren sebentar dari rasa lelah apapun yang ada di luar saya.

Senin, 01 Desember 2014

Tentang Ibuk I

Kurang lebih satu tahun, aku masih sangat ingat sore itu saat Bapakku telepon, Bapak jarang menelponku dengan alasan beda operator, setelah aku ganti operator yang samapun tetap saja beliau jarang meneleponku. Satu atau dua kali beliau akan telepon saat sadar anak ragilnya sudah tidak pulang dua minggu lebih, hanya untuk bertanya "Gak mantok nduk?" sudah tak ada yang selebihnya pertanyaan lain seperti, wes maem? lagi opo? pertanyaan yang mengandung perhatian seperti itu. Bapakku selalu curiga saat aku menelpon beliau duluan, pikirnya mesti uang jatah mingguan telah habis.