Minggu, 18 Maret 2012

curhatan anak petani

Sebenarnya miris ketika melihat kalian yang dengan seenaknya membuang nasi. Dengan banyak alasan, pernahkah kalian melihat ke bawah dan menemukan bahwa sedikit nasi yang kita abaikan adalah berharga untuk satu hari mereka. Kelaparan dimana-mana, kurang apalagi untuk menyadarinya. Mereka meminta, memohon belas kasih, iba, dan pandangan tidak nyaman kita hanya untuk sesuap nasi yang bagi kita tak pernah berharga. Kemana kepedulian kita dalam sesuap nasi yang hanya kita pandang sebelah mata.



Di sisi lain pernahkah kita memikirkan prosessnya, tentu saja barang semenitpun tak kan ada dalam otak kalian yang mempunyai orang tua Pejabat ataupun Pengusaha. Butuh keringat banyak, butuh banyak pengharapan dan juga butuh banyak kesabaran. Untuk menjadikan perut kalian kenyang, Untung membuat anak anda pintar. Mirisnya Petani selalu terabaikan, mana ada pro yang tanpa imbalan. Membungkam mulut anak mereka yang merengek Spp di bayarkan, menangis lirih ketika anak mereka meminta yang sama dengan apa yang kalian dapatkan. Bersabar. Sayangnya Petani selalu menjadi yang terpinggirkan, terlupakan walau jasanya dinikmati. Tak dihargai walau susahnya semua itu setengah mati. Kalian hanya tau jadi, tak pernah pedulikan keringat dari lengan baju yang di singsihkan ini.


Tak perlu belas kasihan kalian untuk semua ini, Ini jalan kami para anak petani yang nasinya tak pernah kalian hargai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar