Senin, 15 September 2014

Saingan Terberat

Setiap ada dia aku akan kalah telak, kecil,putih, langsing sedikit imut dan sedikit pandai juga berfikir rasional. Dia dapat menempel kapanpun dimanapun dengan dia, mengendus di lengan atau sekedar bergelayut mesra, kalah telat, aku duduk berduapun bisa di hitung dengan jari intensitasnya. Rambut mereka sama-sama keriting, punya hobi yang sama akan alam, musik dan yang lebih parah saat ini mereka tidur berdua. Dan tentunya dia tidak pernah manja atau sekedar ceme-ceme.

Aku tahu dia senang dengan tipe mandiri, strong, apalah daya sampai sinipun kerapuhanku sangat jelas terlihat. Ada aku dia dan kamu membuatku panas hati, bagaimana tidak tingkah mereka menjadi-jadi, memeluk, usap rambut hah, aku kalah telak dengan dia Tuhan.

Saingan terberat

Jumat, 12 September 2014

Telepon Senja

Tutuu tutuut.....

Assalamualaiku itu terucap hampir bersamaan,

***.... hey,


Batas

Ini bukan sebuah kisah percintaan yang penuh perjuangan, air mata dan derita. Bukan juga tentang romansa manis yang bila siapapun membaca akan tersenyum manja, hanya kisah tentang aku dia dan sebuah batas di antara kami. Batas itu besar, tinggi tak terjangkau dan terjamah, tidak pernah kasat mata namun sellau kami sadari, batas itu selayaknya batas negara, sellau kami jaga, agar tidak ada satupun dari kami yang melewatinya.

Dia bukan seorang pacar, teman, dia seorang sahabat, seorang yang akan selalu ada saat diperlukan, tidak pernah bertanya mengapa dan apa. Itulah istimewanya dia, seorang teman bermain yang selalu mengikuti permainanku. Pernah suatu malam gerimis, aku diboncengnya hanya karena aku malas untuk pergi ke rumah temanku di kota lama, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya hujan dan malam. Kami berjalan pelan, dengan tega tak ku berikan helmku untuknya. aku benti terkena rintik hujan, sedikit basa-basi kutawarkan helm retro putih merah itu, di tolaknya halus. Ah, asal kau tahu aku memang hanya sekedar menawarkan. 


Selasa, 09 September 2014

Ayo Kapten

Hari ini dia gusar, anak yang tangkas dan juga pemberani itu baru sekali ini ku lihat seperti itu. Mungkin dia lelah dan sedang tidak fit. Cerita ini bukan tentang nama samara atau inisial, juga bukan tentang anak nakal, dia sudah dewasa, satu tahun di atasku. Selalu bersemangat ketika aku menjarkom, selalu bersemangat ketika latihan dan bermain dan selalu bersemangat saat mengolokku. Padai bermain bola dan musik, dialah sang kapten. Bukan apa-apa aku menyebutnya demikian, 8 bulan lebih aku menjadi bagian dari mereka, setiapku tanya "ini yaapa rek?" sudah dapat ku tebak jawabannya tanya Evan. 


Emak, Aku Ingin Pulang

Kemarin, aku sebenarnya tak sanggup meninggalkan rumah di Minggu sore yang cerah, saat kau terbaring lemah di tambah raunganmu saat aku berpamitan hanya untuk ke perantauan. Ada sebuah misi di hari itu yang ingin ku tuntaskan, meski hanya setengah hati meninggalkan rumah yang sangat nyaman. Nyatanya Mak, mereka selalu tak mengindahkan apa yang ku anggap penting, pegitulah adanya, hal yang kadang kita anggappenting bagi mereka biasa pun sebaliknya. Dalam keterbatasanku aku mencoba kuat, menahan sakit setiap dinginnya Malang menusuk tulang atau getaran moror menggerakkan bahu. Nyatanya separo dari mereka belum siap, agendaku tak karuan. Seperti inilah yang dikatakan hidup adalah sebuah pilihan, maafkan aku kemarin yang mengutamakan mereka, Mak, aku merasa itu tanggung jawabku, keluar dari Malang otakku tak mampu memikirkan tentang halapa saja uang harus menungguku di sana.