Minggu, 09 September 2012

Potret Anak Daerah


Namanya Marlin, entah siapa nama panjangnya, atau dia tidak mempunyai nama panjang. Yang pasti orang-orang memanggilnya Lin. Usianya 2 atau 1 tahun diatas saya, 20.Namun dengan perawakan yang tegap dia jauh kelihatan dewasa dari usia sebenarnya. Saya tidak pernah mengenal Lin secara akrab, hanya pernah beberapa kali basa-basi ketika bertemu di rumah budhe yang adalah tetangganya. Tidak ada yang menarik dari Lin ketika bertemu denganya. Dia bukan orang yang saya kagumi, cintai, atau ada rasa simpati untuknya. Namun tidak dipungkiri sosoknya yang misterius itu  mampu membuat otak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sepele tentang dirinya.
            Lin berwajah biasa seperti cowok kebanyakan di desa saya, dengan kulit sawo mentah yang jarang saya temui di sini apalagi melihat pekerjaanya yang hanya buruh tani, dan badan yang telah membentuk sempurna, matanya tajam seakan-akan siaga kepada siapapun yang memandangnya, mengisaratkan bahwa ada keraguan ketika setiap orang ingin berteman dengannya. Dengan fisik seperti itu bisa di bilang dia cukup tampan untuk ukuran remaja yang tidak pernah bersosialisasi dengan teman sebayanya. Dia mempunyai satu adik yang berusia 3 tahun di bawahnya. Entah bagaimana kehidupan pribadinya. Beberapa kali saya pernah bertukar pandang dengannya dan bisa di tebak bagaimana hasilnya dia yang memalingkan wajah terlebih dahulu dari saya. Sedikit tersinggung sebenarnya, namun saya mengerti pribadinya yang jarang bersosialisasi dengan remaja seusianya apalagi wanita membuatnya menjadi sosok pemalu sekaligus minder untuk memulai suatu hubungan pertemanan. Maklum Lin tidak pernah merasakan bangku sekolah, jangankan SMP, SD saja tak pernah dia alami, jadi bagaimana dia dapat belajar bersosialisasi dengan teman sebaya, ilmu pun tidak menarik minatnya. Entah apa yang mendasari Lin takut untuk merasakan nyamanya bangku pendidikan, dibujuk seperti apappun dan bagaimanapun oleh orang tuanya dia tidak bergeming. Alasannya bahwa dia berasumsi disekolah apabila tidak dapat mengerjakan tugas maka guru akan menghajarnya, miris, darimana anak seusia itu dapat beranggapan demikian.
            Pernah suatu ketika Ibunya ingin menyekolahkan bersama dengan adiknya, namun dengan keras dia menolak, walaupun diiming-imingi dengan hadiah sepedahpun dia tidak pernah goyah ataupun ingin pergi kesekolah bersama teman-teman yang lain. Dia memilih bekerja, ketika ank seusia Lin sibuk belajar diapun sibuk mencari uang dengan ikut menjadi buruh tani. Teman-teman Lin hanya orang-orang yang bekerja bersamnya, orang-orang yang berusia jauh diatasnya. Dan sekarang sebuah sepeda motor telah dia miliki dengan uang hasil jerih payahnya menjadi buruh tani. Cita-citanya hanya sederhana seorang Petani, cita-cita yang sampai saat ini dianggap sepeleh oleh semua anak-anak Indonesia.
            Saya hanya merasa miris dengan apa yang terjadi pada Lin, dan berharap tidak akan pernah terjadi lagi Lin Lin yang lain di desa ini. Untuk kemajuan dari desa saya sendiri agar tidak akan ada anak desa yang dipandang sebelah mata hanya karena perbedaan geografis yang mendasari perbedaan pola pikir itu, tidak ada keminderan untuk bersaing dengan orang-orang kota. Percaya bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dan kreatifitas yang sama, namun tinggal bagaimana kita mengasah hal tersebut.

            Sebuah desa kering, berdebu terpencil, yang membuat saya tidak nyaman namun adalah tempat untuk pulang.

                                                                                                            Ja’an 10 Juli 2012


                                                                                                           
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar