Namanya
Marlin, entah siapa nama panjangnya, atau dia tidak mempunyai nama panjang. Yang
pasti orang-orang memanggilnya Lin. Usianya 2 atau 1 tahun diatas saya, 20.Namun
dengan perawakan yang tegap dia jauh kelihatan dewasa dari usia sebenarnya.
Saya tidak pernah mengenal Lin secara akrab, hanya pernah beberapa kali
basa-basi ketika bertemu di rumah budhe yang adalah tetangganya. Tidak ada yang
menarik dari Lin ketika bertemu denganya. Dia bukan orang yang saya kagumi,
cintai, atau ada rasa simpati untuknya. Namun tidak dipungkiri sosoknya yang
misterius itu mampu membuat otak
menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sepele tentang dirinya.
Lin berwajah biasa seperti cowok
kebanyakan di desa saya, dengan kulit sawo mentah yang jarang saya temui di
sini apalagi melihat pekerjaanya yang hanya buruh tani, dan badan yang telah
membentuk sempurna, matanya tajam seakan-akan siaga kepada siapapun yang
memandangnya, mengisaratkan bahwa ada keraguan ketika setiap orang ingin
berteman dengannya. Dengan fisik seperti itu bisa di bilang dia cukup tampan
untuk ukuran remaja yang tidak pernah bersosialisasi dengan teman sebayanya.
Dia mempunyai satu adik yang berusia 3 tahun di bawahnya. Entah bagaimana
kehidupan pribadinya. Beberapa kali saya pernah bertukar pandang dengannya dan
bisa di tebak bagaimana hasilnya dia yang memalingkan wajah terlebih dahulu
dari saya. Sedikit tersinggung sebenarnya, namun saya mengerti pribadinya yang
jarang bersosialisasi dengan remaja seusianya apalagi wanita membuatnya menjadi
sosok pemalu sekaligus minder untuk memulai suatu hubungan pertemanan. Maklum
Lin tidak pernah merasakan bangku sekolah, jangankan SMP, SD saja tak pernah
dia alami, jadi bagaimana dia dapat belajar bersosialisasi dengan teman sebaya,
ilmu pun tidak menarik minatnya. Entah apa yang mendasari Lin takut untuk
merasakan nyamanya bangku pendidikan, dibujuk seperti apappun dan bagaimanapun
oleh orang tuanya dia tidak bergeming. Alasannya bahwa dia berasumsi disekolah
apabila tidak dapat mengerjakan tugas maka guru akan menghajarnya, miris,
darimana anak seusia itu dapat beranggapan demikian.
Pernah suatu ketika Ibunya ingin
menyekolahkan bersama dengan adiknya, namun dengan keras dia menolak, walaupun
diiming-imingi dengan hadiah sepedahpun dia tidak pernah goyah ataupun ingin
pergi kesekolah bersama teman-teman yang lain. Dia memilih bekerja, ketika ank
seusia Lin sibuk belajar diapun sibuk mencari uang dengan ikut menjadi buruh
tani. Teman-teman Lin hanya orang-orang yang bekerja bersamnya, orang-orang
yang berusia jauh diatasnya. Dan sekarang sebuah sepeda motor telah dia miliki
dengan uang hasil jerih payahnya menjadi buruh tani. Cita-citanya hanya
sederhana seorang Petani, cita-cita yang sampai saat ini dianggap sepeleh oleh
semua anak-anak Indonesia.
Saya hanya merasa miris dengan apa
yang terjadi pada Lin, dan berharap tidak akan pernah terjadi lagi Lin Lin yang
lain di desa ini. Untuk kemajuan dari desa saya sendiri agar tidak akan ada
anak desa yang dipandang sebelah mata hanya karena perbedaan geografis yang
mendasari perbedaan pola pikir itu, tidak ada keminderan untuk bersaing dengan
orang-orang kota. Percaya bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dan
kreatifitas yang sama, namun tinggal bagaimana kita mengasah hal tersebut.
Sebuah desa kering, berdebu
terpencil, yang membuat saya tidak nyaman namun adalah tempat untuk pulang.
Ja’an
10 Juli 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar