Tulisan ini terinspirasi waktu kemarin, dengan sangat berat hati dan penyesalan yang terus menerus saya keluar dari supermarket sambil meratapi nasib dompet, yang isinya tinggal beberapa lembar uang ribuan. Alasannya simpel, karena keinginan untuk mencoba hal baru, yang lebih tipis dan kelihatan lebih nyaman, tanpa melihat label harga akhirnya terambilah barang itu.
Minggu, 13 April 2014
Ciuman Singkat di Depan Gerbang
Pukul 21.45 aku keluar dari toko kecil, tanganku sibuk membawa barang, satu menenteng gelas minuman, satu lagi memegang belanjaan yang baru saja ku beli. Sambil sibuk memasukan barang belanjaanku mataku terpaku pada sosok yang ada di depan, sepasang muda-mudi di atas motor, si cewek terlibat adu mulut dengan adiknya yang ada di bawah, entah membicarakan apa tidak jelas. Sang adik kelihatan jengkel, memandang embaknya dengan mata tajam.
Keteguk minuman yang ada di tanganku setelah selesai memasukan barang ke dalam tas, mataku masih terteju ke depan, rasa ingin tau yang kuat membuatku intensif memperhatikan mereka, tanpa ku duga si cewek turun dari motor, berbalik cepat ke arah cowok yang masih di atas motor, mengecup pelan pipi si cowok, sambil tersenyum. Aku terdiam, terkejut dengan yang baru saja terjadi di hadapan mata, setelah tersadar pandanganku menyapu sekeliling, jalanan memang lumayan sepi, namun di daerah yang banyak dihuni rumah - rumah kost mahasiswa ini masih ada satu, dua yang berlalu di jalan itu. Lalu pandanganku kembali ke arah mereka, melihat sang adik yang masih berdiri di depan, diam, mungkin bingun dengan yang terjadi secara cepat dan sekilas.
Rabu, 02 April 2014
Hello 21
![]() |
| Karya Sulih Prabawati, terimakasih sudah menjadi adik kost yang baik :'' |
Selasa, 01 April 2014
Mencintai Malang
Tiga tahun waktu yang lama untuk membuatku mengakui indahmu
Setiap udara yang kau beri, setiap tanah yang kau sediakan untuk tempatku berpijak.
Tiga tahun lalu, sebuah harapan baru muncul, tentang hidup tenang dan kebebasan, sayangnya sampai saat lalu aku belum bisa menikmatimu, Malangku.
Kini aku sadar, kamu tidak pernah bersalah dengan yang mereka lakukan padamu.
Perubahan itu sellau ada, aku merasakannya.
Untuk sekarang aku akan menikmati setiap detik yang ku habiskan denganmu.
Macet, Panas, Udara kotor.
Tapi tenang Malang, akmu masih punya banyak hal indah untuk di banggakan.
Terimakasih untuk tampunganmu pada kami,
Untuk kebebasan hingga kami membuka diri,
Untuk langit biru dan pagar bukit yang indah.
Untuk tanah yang kupijak dan udara yang ku hirup,
Terimakasih telah mau berbagi dan tumbuh berasama kami.
Semoga kamu bisa lebih baik lagi,
Semoga mereka bisa sadar akan hal indahmu,
Malang, 1 April 2014 #100TahunMalang
Langganan:
Komentar (Atom)
