Senin, 31 Maret 2014

Mencintaimu tak butuh aliran darah

Hallo Brooh, kamu apa kabar di sana? aku selalu mendoakan yang terbaik.
Ini baru 3 hari, aku membiasakan diri tanpamu, biasanya berminggu-minggupun tak pernah ada masalah, karena aku tahu kamu masih menungguku di depan pintu dengan berbagai pertanyaan tentang hariku di Malang. "Teko kono jam piro?" (Dari sana jam berapa?"," berarti mau di susul masmu?" (Berarti tadi dijemput kakak mu?". 

Selasa, 25 Maret 2014

Karna Cinta tak Perlu Aliran Darah

Hei, selamat malam. Maaf ya Socikoclogy hari ini aku nggak bisa nahan rapuh, nahan air mata egoisku.

Dia bukan siapapun bagi semua yang ada di sana, tanpa mereka sadari perannya cukup besar. Memiliki kisah hidup yang sangat panjang, perjuanganya akan cinta dan kedamaian, aku dapat merasakannya. Wajahnya selalu tegas, giginya berkerak namun masih utuh, bibirnya merah kehitaman bekas sirih yang setiap waktu dikunyah. Setiap kali aku pulang, suaranya selalu menyambutku, sosok ringkihnya duduk di kursi keras dari bata.

Tuhan memang adil, tak perlu aliran darah untuk membuatku menyanyanginya, bahkan lebih. Kata kasarnya mungkin sedikit meniru pada diriku, begitupula watak kerasnya. Dia tulus aku yakin itu, orang boleh memandangnya remeh, bagiku dia semua. Tempat mulutku menceritakan semua yang tak pernah bisa ku ungkapkan kecuali di kata, tangannya selau terbuka siap untuk memelukku ketika rapuh.