Beberapa minggu terakhir aku sering
keluar masuk apotek, tepatnya di daerah Dinoyo. Jangan tanya kenapa, alasannya
bukan sama seperti kebanyakan orang, untuk membeli obat, agaknya apotek ini
telah beralih fungsi bagiku yaitu untuk mengetahui apakah berat badan naik atau
turun.
Ini berawal saat mengikuti suatu
program diet, yang sedang menjadi trending topik. Satu hari berlalu dan rasa
penasaran itu muncul.
“Piro yo rek beratku” (berapa ya
beratku) aku bertanya ke 3 sahabatku saat jam istirahat.
“enggak ngertilah” jawab salah satu
cepat
“Pengen nimbang deh”
“Yawes, timbang lo”
(yaudah timbang saja)
“ Ga nduwe tapi” (ga punya tapi)
“Aku ngerti nang apotek Dinoyo onok”
(aku tahu di apotek Dinoyo ada) celetuk Reza tiba-tiba.
Sepulang dari kampus, niat untuk
mampir ke apotek itu semakin tak terbendung. Ku parkir motor di kiri jalan,
kebetulan arah ke apotek itu dan kostku satu arah.
Di dalam apotek aku bingung, ya masak
harus langsung menimbang badan, rasanya sangat tidak sopan.
“Bisa di bantu mbak?” tanya salah
satu pegawai di sana.
“eeem... anu mbak obat untuk pilek”
ku jawab seadanya, daripada aku harus jujur berkata mau menimbang badan.
“Biasanya apa mbak?” tanya mbaknya
lagi
“aduuh nggak biasa minum obat mbak,
yang dosisnya rendah aja lah”
“ini mbak,” sambil mengeluarkan salah
satu obat pilek yang cukup terkenal
“Jangan deh, yang dosisnya rendah,
sama yang kecil obatnya”
“semua sama mbak”
Aku melihat beberapa obat yang
ditunjuk pengawas apotek tersebut, pandanganku jatuh pada salah satu obat yang
kemasannya terlihat lebih kecil dari semua.
“Yang itu mbak” celotehku sambil
menunjuk obat tersebut.
“itu untuk anak-anak mbak”
Wajah si mbak penjaga sudah mulai
bosan, akhirnya ku putuskan untuk memilih salah satu obat yang ditawarkannya
tadi.
“1500, bayar di kasir”
1500 pas keluar dari dompetku.
Pandanganku meneliti di ruangan itu,
tepat di pojokan benda itu berada. Tas aku taruh di kursi dekat situ.
“Mbak aku nimbang ya” tampa menunggu
jawaban aku langsung naik keatas benda itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar