Bukan malam yang biasanya di buat untuk seorang pujangga, siang dengan teriknya matahari di atas kepala. Gadis berkacamata itu berjalan seperti biasa, penuh kepercayaan diri pandangannya tertuju kedepan, bibirnya sesekali menciut atau mengembang, entah apa yang sedang dipikirkannya. Memasuki sebuah gedung, espresinya masih sama, sulit ditebak, langkahnya tanpa ragu, malu bahka telah hilang di otaknya.
"Hey kamu, apa kabar?" Sebuah suara memecah kebisingan di tengah ruangan itu.
"Hey, hey, mau ke mana sih?"
Sadar akan tatapan mata tajam, gadis berkacamata itu berhenti, mencari sumber suara. Dia tidak menemukan seorang yang dirasa dikenal, badannya dipaksa berputar ke belakang, masih sama tidak ada yang penting, batinya.
"Oh sombong"
Sekarang dia tahu yang berbicara, seorang gadis berjilbab dengan wajah putih dan senyum merekah di bibirnya. Gadis berkacamata masih diam, berfikir tepatnya, menimbang apakah ingin maju menemui gadis tersebut atau acuh dan meneruskan langkah atau hanya tersenyum di tambah melambaikan tangan, toh kalaupun nantinya bukan dia yang gadis itu maksud, dia akan pura-pura sedang melambaikan tangan dengan orang lain.
Pilihannya melenceng dari rencana di otak, dia mendatangi gadis itu, memandang dari atas ke bawah dengan dahi berkerut keheranan, menilai, mengingat lebih tepatnya. Siapa orang yang sedang duduk di depannya? Dia tidak mengenalinya, sampai tanpa sadar bibirnya mengeluarkan kata "Siapa?"
"Nana, ini Nana" Dahi gadis berkacamata tersebut semakin bertumbuk oleh kulit, berfikir lebih keras.
"ooohhhhh.. kamu mbak,"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar