Reza, Sahabatku yang perasa. ia sedang gundah, memikirkan nasib lingkungannya. Dia peka dengan segala yang ada di sekitarnya, menyelami tentang kenyamanan. Kenyamanan itu masalah selera Za, bagaimana kita bisa menempatkan diri kita dalam kenyamanan. Jika kamu bertanya "bagaimana rasanya menjadi dia ?" jawabku satu, "Aku bukan dia, dan tidak bisa merasakan seperti dia" Kenyamanan itu butuh waktu za, tentang ketidakbiasaan dan kebiasaan, yang di dapatkan dalam membuat waktu bersama. Dia telah ada dalam kenyamanan kita dulu, begitupula dengan kita ada dalam kenyamanannya dulu juga. Kita pergi karena merasa tak sama, okelah mungkin kita hanya tak rela membaginya dengan yang lain, namun dia punya kenyamanan berbeda sesuai kebutuhan itu Za. Dan kita tak pernah rela kita menjadi bolong, ada cela dan dapat utuh, bukannya aku mengagungkan kita hanya saja aku bingung mencari yang lain selain kita. Dia menidakbiasakan yang biasa, membiasakan yang tidak biasa hingga menjadi kenyamanan yang baru. Aku menyebut kenyamanan itu sebuah budaya yang dibangun oleh suatu kelompok karena kesamaan dan rasa bisa menerima juga datangnnya rasa damai dalam diri mereka. Kenyamanan tidak hanya di dapatkan diantara mereka yang bernyawa, namun dalam segala sesuatu yang aku sebutkan tadi.
Reza, kamu terlalu sensitif tentang tetek bengeknya dunia. Kadang dunia memang kejam, menempatkan kita dipilihan yang sulit untuk dijabarkan, sudahlah jangan terlalu difikirkan, fokuskan apa yang menjadi keinginan dan kenyamananmu. Carilah Za, yang bisa membuatmu melupakan segala permasalahan, yang bisa membuatmu percaya dengan segala yang dilakukan walaupun kejam.
Aku nyaman dengan "Kita" yang dulu, sekarang ataupun esok, karna aku tahu "Kita" tak selalu sama, selalu ada perubahan seiring waktu yang memihak "kita".Asal kamu tahu sekali lagi za, aku punya kenyamanan sendiri sekarang dengan dia, jika kita dipaksakan kembali seperti kita yang dula Za, aku tak pernah percaya hasilnya akan seperti semula, karena yang pecah tak kan pernah menjadi utuh seperti sedia kala.
Terima saja Za, apa yang ada saat ini, carilah kenyamananmu Za, hingga akhirnya kamu bisa tenang, damai dan berkembang. Jangan jadikan kita sebagai cangkang dalam cerita kita Za.